sallu alan nabi

sallu alan nabi

Hadis Nabi

Rasulullah SAW berpesan, “Bersegeralah kamu melakukan amalan soleh kerana akan datang kepada umatku di suatu masa, satu fitnah yang begitu besar yang datangnya seperti satu kepingan hitam di malam gelap gelita tak nampak”. Sahabat bertanya, “Apakah fitnah besar itu ya Rasullullah?”. “Fitnah itu adalah kamu akan lihat umatku di hari itu, di waktu itu, pada masa itu, pagi hari Islam, petang kafir. Petang Islam, pagi kafir semula”. Sahabat bertanya lagi, “Mengapa begitu ya Rasullullah?”. Rasullullah SAW menjawab, “sebab dia menjual agamanya dengan nilai dunia”.


Ayat Al Qur'an

A054

Sesungguhnya ini ialah pemberian Kami kepada kamu, pemberian yang tidak akan habis-habis; -

(Saad 38:54)

Ayat Al Qur'an


A020

"Dan sesungguhnya aku telah memohon perlindungan kepada Tuhanku dan Tuhan kamu, daripada kamu merejam (atau menyakiti) daku.

(Ad-Dukhaan 44:20)

Friday, May 10, 2013

Hadiah selepas PRU 13

Bukankah ini suatu penipuan


Sedangkan pusat pentadbiran ialah di Kuantan.
MAGIK SHOW..... SIAPA PERNAH SAMPAI DI PEKAN PAHANG?

BAGI YANG DAH PERNAH SAMPAI.. SILA JAWAB SOALAN INI?

1. BESAR MANAKAH PEKAN PAHANG DIBANDINGKAN DENGAN DAERAH YANG LAIN TERUTAMA KUANTAN?

2. BERAPA BANYAKAH PENDUDUK PEKAN PAHANG BERBANDING DENGAN DAERAH LAIN?

3. SOALAN 18SX.... ADAKAH PENDUUDK PEKAN PAHANG SUKA MELAHIRKAN ANAK BERBANDING DENGAN DAERAH LAIN?

Tentara korea berbondong bondong masuk islam


Tentara korea berbondong bondong masuk islam

Subhanallah... sebanyak 38 tentara Korea Selatan secara spontan berikrar masuk Islam. Ke-38 tentara Korea itu, satu orang diantaranya seorang komandan bernama Kapten San Jin Gu sedang 37 lainnya adalah prajurit. Kapten San adalah salah satu komandan Brigade 11 SF, pasukan perdamaian PBB dari Korea Selatan yg ditugaskan di Irak. Kapten San dan pasukannya bertugas di wilayah Irbil, Irak Utara.

saat bertugas di wilayah tersebut, Kapten San Jin-Gu sering mengamati orang-orang muslim sholat berjamaah di masjid. Kebetulan markas pasukannya berada dekat sebuah masjid. Ia sangat tertegun dengan gerakan- gerakan sholat. Karena dihinggapi rasa penasaran, ia mencoba menirukan seluruh gerakan sholat dan dipraktekan dikamarnya sendirian.

Pada saat mempraktekan itulah Kapten San Jin-Gu merasakan ada ketenangan, dan perasaan damai dalam hatinya. Itulah sebabnya, gerakan2 sholat tsb kemudian ia jadikan program meditasi di pasukan yg ia pimpin (disamping Yoga), dan ternyata sebagian besar prajurit setelah mempraktekan gerakan2 sholat tsb merasakan hal yg sama, mereka juga merasa lebih tenang dan damai. Sejak itu Kapten San berinisiatif mempelajari Islam untuk mengenalnya lebih dalam lagi, dan akhirnya ia memutuskan untuk memeluk Islam.

Ketika niatnya ingin memeluk Islam disampaikan kepada prajurit-prajuritnya, ia berkata: “Aku telah menemukan cahaya kehidupan yang sesungguhnya, aku ingin berada dalam cahaya itu, dan cahaya itu adalah Islam”. Tanpa ia duga, secara spontan 37 prajurit yang ia pimpin mengangkat tangan mereka, sebagai tanda ikut bersama komandannya untuk juga memeluk Islam

Subhanallah.

mohon dengan ikhlasnya meng-klik "bagikan"/"share" artikel ini
Agar bisa bermanfaat bagi saudara muk'min yg lain.

@[292144424251919:274:Akhbet Bummi Madara]
@[355090501248264:274:Alhamdulillah I Am Muslim]
Tentara korea berbondong bondong masuk islam

Subhanallah... sebanyak 38 tentara Korea Selatan secara spontan berikrar masuk Islam. Ke-38 tentara Korea itu, satu orang diantaranya seorang komandan bernama Kapten San Jin Gu sedang 37 lainnya adalah prajurit. Kapten San adalah salah satu komandan Brigade 11 SF, pasukan perdamaian PBB dari Korea Selatan yg ditugaskan di Irak. Kapten San dan pasukannya bertugas di wilayah Irbil, Irak Utara.

saat bertugas di wilayah tersebut, Kapten San Jin-Gu sering mengamati orang-orang muslim sholat berjamaah di masjid. Kebetulan markas pasukannya berada dekat sebuah masjid. Ia sangat tertegun dengan gerakan- gerakan sholat. Karena dihinggapi rasa penasaran, ia mencoba menirukan seluruh gerakan sholat dan dipraktekan dikamarnya sendirian.

Pada saat mempraktekan itulah Kapten San Jin-Gu merasakan ada ketenangan, dan perasaan damai dalam hatinya. Itulah sebabnya, gerakan2 sholat tsb kemudian ia jadikan program meditasi di pasukan yg ia pimpin (disamping Yoga), dan ternyata sebagian besar prajurit setelah mempraktekan gerakan2 sholat tsb merasakan hal yg sama, mereka juga merasa lebih tenang dan damai. Sejak itu Kapten San berinisiatif mempelajari Islam untuk mengenalnya lebih dalam lagi, dan akhirnya ia memutuskan untuk memeluk Islam.

Ketika niatnya ingin memeluk Islam disampaikan kepada prajurit-prajuritnya, ia berkata: “Aku telah menemukan cahaya kehidupan yang sesungguhnya, aku ingin berada dalam cahaya itu, dan cahaya itu adalah Islam”. Tanpa ia duga, secara spontan 37 prajurit yang ia pimpin mengangkat tangan mereka, sebagai tanda ikut bersama komandannya untuk juga memeluk Islam

Subhanallah.

mohon dengan ikhlasnya meng-klik "bagikan"/"share" artikel ini
Agar bisa bermanfaat bagi saudara muk'min yg lain.

MP PAS 2013-2018


BERGAMBAR] Senarai Ahli Parlimen PAS Sessi 2013-2018



Berikut ialah senarai Ahli Parlimen PAS bagi Sessi 2013-2018. Terdapat seramai 21 orang kesemuanya yang akan menggalas perjuangan Parti Islam SeMalaysia (PAS) di parlimen, berganding sama dengan rakan-rakan seperjuangan PKR dan DAP di dalam Pakatan Rakyat.

AHLI PARLIMEN PAS
[2013-2018]

NoNAMAParlimen
1Marang
Datuk Seri Abdul Hadi Awang
2Kuala Nerus
Khairuddin Aman Razali
3Kuala Terengganu
Datuk Raja Kamarul Bahrin Shah
4Dungun
Wan Hassan Mohd Ramly
5Pokok Sena
Datuk Mahfuz Omar
6Parit Buntar
Dr. Mujahid Yusof
7Bukit Gantang
Ustaz Idris Ahmad
8Temerloh
Nasrudin Hassan
9Hulu Langat
Che Rosli Che Mat
10Shah Alam
Khalid Samad
11Kota Raja
Dr. Siti Mariah Mahmud
12Sepang
Mohamed Hanipa Maidin
13Tumpat
Datuk Kamaruddin Jaafar
14Pengkalan Chepa
Dr Izani Hussin
15Kota Bharu
Datuk Takiyuddin Hassan
16Pasir Mas
Nik Mohamad Abduh Nik Abdul Aziz
17Rantau Panjang
Siti Zailah Mohd Yusoff
18Kubang Kerian
Ahmad Baihaki Atiqullah
19Bachok
Ahmad Marzuk Shaary
20Pasir Puterh
Dr Nik Mazian Nik Mohamad
21Kuala Krai
Dr. Mohd Hatta Ramli


Kepada semua YB-YB di atas, selamat menjalankan tugas dengan sebaik mungkin untuk menggalas amanah yang diberikan oleh para ahli dan rakyat demi perjuangan menegakkan kebenaran dan keadilan. jangan sesekali dihampakan atau dikhianati amanah tersebut. 

Akibah Menipu


Khas utk spr!!













Berpolitik dengan kematang - kehidupan masih jauh.


MAY 8 ― The Utusan Malaysia headline of May 7 posed an interesting and pertinent question of what more do the Chinese in Malaysia want. It is a pity that Utusan is unable to see that what the Chinese want is, in fact, what the educated urban Malaysian voter wants, regardless of race or religion. There are three important characteristics lacking in the Barisan of today.

Intelligent, courageous leadership

The Chinese comprise only 30 per cent of Malaysian voters, yet Pakatan Rakyat won 51 per cent of the total votes cast. By saying that the election result was because of the Chinese voters, the Barisan Nasional leadership demonstrates an inability to objectively face reality. Barisan’s acceptance of Zulkifli Nordin as its direct Shah Alam candidate similarly shows a lack of intelligence and courage. Here is a lawyer who does not feel that dialogue and discussion can resolve matters, having forcefully disrupted a Law Society seminar. He has vowed loyalty to, and then turned on his previous political parties. He has publicly belittled an ancient religion with a million Malaysian followers.

Umno making way for Ibrahim Ali to contest the Pasir Mas constituency is similarly bad judgement, showing its acceptance and approval of a crude man who prides himself with using vulgar words in public interviews.To give them such special honour and credit shows a lack of intelligent reasoning and an inability to stand up against the loud extremist faction of the party. Attributing the election outcome to a “Chinese tsunami” is illogical in the face of concrete facts and data. PAS won an additional seven state seats in Selangor, all in Malay majority areas. Lim Kit Siang could not have achieved a majority of over 14,000 votes in Gelang Patah without good support from Malays who form 35 per cent of the electorate there. Similarly the Umno-backed Perkasa extremists were conclusively rejected in Pasir Mas (96 per cent Malay) and in Shah Alam where Malays make up 70 per cent of the electorate.

To blindly spin the 2013 election outcome to suit its raced-based founding philosophy of 1947shows up a political party that wants to be stubbornly unwise. Unless Umno’s leadership can find the courage to face facts, the party may become redundant and obsolete for the educated 21st century voter.

Respect and recognition of rights

Academic studies have consistently shown that increased income brings more happiness and satisfaction only up to a certain point. When a society progresses out of poverty into middle class, increasing income does not increase satisfaction proportionately. It is the psychological aspects of living that produces a better quality of life.

Whatever the radiation scientists claim, the people of Bentong (45 per cent Malay, 44 per cent Chinese) will ask why a factory run by an Australian company is unsuitable for Australia or Damansara Heights but can be located in their backyard.

In 2008, Health Minister Liow won Bentong by over 12,000 votes. This year he retained Bentong with less than 400 votes against a political novice who is a green activist. The urban electorate, Chinese or Malay, seeks respect and recognition of their right to a safe living environment.

In Penang , the 1 Malaysia Charity organisation hosted numerous concerts and dinners in support of Barisan candidates. At their functions, T-shirts, beer, hawker food and lucky draw gifts were given free.

Initially there was merriment and wonder at this new campaigning style; this then became anger and disgust when even cash incentives were handed out. The electorate felt they were treated with disrespect, as if their rights, dignity and vote were for sale.

Numerous development issues had plagued the Penang DAP government in the months leading up to the election, and the increased majority they subsequently obtained can only be explained by the strong rejection what the other side represents. Money cannot buy happiness, and similarly, the urban electorate set out to show that money cannot buy their vote in Penang .

The urban electorate in Malaysia is obviously better off economically compared to the rural dwellers. They have reached a stage when extra economic incentives can no longer easily win their approval.

Instead they asked for respect, and an acknowledgement of their right to an inclusive, peaceful existence in the country. They seek recognition as a legitimate electorate with the right to choose the governing party. Blaming and insulting them for voting against the Barisan will only guarantee the DAP and Pakatan a brighter future.

Competent efficient institutions

There is no doubt that relative to those who were once our equivalent, we Malaysians have fallen behind. The Singapore dollar which was equivalent to the ringgit in the 1970’s is today 2.5 times higher. Malaysia beat South Korea and Japan in the 1972 Olympic football qualifying rounds; today we are nowhere near these 2 World Cup Finals participating countries.

Universiti Malaya had topped the list of universities passing the United States medical qualifying examination in 1969, ahead of Melbourne and Singapore University . In 2011, Universiti Malaya was ranked 401 out of the 500 universities in the Shanghai Jiao Tong University ’s Academic Ranking of World Universities.

The educated, smart-phone holding, internet-surfing, urban voter is aware of world-wide trends and wants to experience the best that life can offer. When the governing party is unable to develop the country to its full potential, its popularity will drop.

As demonstrated by the Noble prize winning Dr Ivan Pavlov, animals respond to incentives, and man is no exception. A system that promotes those who agree with and pamper those in power while sidelining those working hard to pursue competency will breed inefficient malfunctioning institutions. Even those not under their direct employment will be affected by these incompetent institutions.

When the police force is politicised and crime rate increases, more money will have to be spent on personal and household security. Even Datuk Nazir Razak admitted that he had hesitated coming back to Malaysia because of concerns about his children’s education. When the middle class spends on private education or healthcare, votes for the governing party will drop.

Conclusion

The Chinese now make up only 25 per cent of Malaysia ’s population and to be named as the cause of major developments in the country is to be hurtful to this minority and insulting to the majority. On the other hand, government statistics show that Malaysia ’s urban population has increased from 62 per cent in 2000 to 71 per cent in 2010.

No amount of rhetorical whitewashing can hide the fact that the poor performance of Barisan in the 2013 election is due to its failure to win the heart and mind of the urban voter. The faster it faces reality and move away from its obsolete race-based mindset, the better its prospects for the next electoral battle.

* Dr Ong Hean Teik is a consultant cardiologist in Penang .

Berhujjan dengan fakta bukan auta.


Majdan Dagang,
08 Mei 2013

Tuduhan bahawa orang Cina rasis, tidak mengenang budi, dan ingin jadi PM tidak benar dan tidak tepat sama sekali. Tuduhan-tuduhan ini hanyalah andaian tanpa berdasarkan fakta yang sebenar. Adalah dibimbangi tuduhan ini bertujuan mencetuskan kegelisahan dalam kalangan orang Melayu khususnya Melayu luar bandar agar terus berpaut pada Uxxx walaupun mereka terus-terusan menjadi mangsa kerakusan pimpinannya merompak hasil negara. Uxxx juga sedar bahawa kemenangan mereka pada kali ini banyak bersandarkan kelompok Melayu ini. Jadi mereka akan berbuat apa-apa sahaja agar kumpulan ini terus kekal walaupun terpaksa meniupkan isu perkauman.

Namun, jika penyokong 
Uxxx rajin sedikit membuat kajian mereka akan mendapati bahawa kenyataan pimpinan mereka tentang masyarakat Cina meleset sama sekali.

Selepas meneliti keputusan PRU13 ini, saya mendapati dengan jelas bahawa orang Cina bukanlah memenangkan DAP kerana parti itu berasaskan Cina, tetapi undi mereka kerana menolak Barisan Nasional keseluruhannya. Tambahan pula, mana-mana kawasan yang mempunyai majoriti penduduk Cina atau sekurang-kurangnya 40 peratus pengundi Cina, calonnya daripada Pakatan Rakyat akan menang selesa – tidak kiralah calon itu dari Melayu, Cina, mahupun India.

Antara kawasan yang mempunyai pola sedemikian ialah bagi P48 Bukit Bendera, Pulau Pinang. Pecahan pengundi mengikut kaum bagi kawasan ini ialah Melayu (13.99 %), Cina (73.74 %), India (11.22 %) dan lain-lain (1.14 %). Parlimen ini dimenangi oleh Zairil Khir Johari yang berbangsa Melayu mengalahkan Teh Leong Meng yang berbangsa Cina. Secara logiknya, Zairil Khir Johari boleh kalah teruk tetapi menang dengan majoriti 32,778.

Lihat pula P80 Raub, Pahang. Pecahan pengundi mengikut kaum ialah Melayu (48.93 %), Cina (40.99 %), India (6.60 %), dan lain-lain (3.47 %). Parlimen Raub ini dimenangi oleh Datuk Arif Sabri Abdul Aziz yang berbangsa Melayu mengalahkan Hoh Khai Mun yang berbangsa Cina dengan majoriti 2,814 undi. Pada PRU12 yang lalu Ng Yen Yen mengalahkan calon Melayu dengan majoriti 2752 undi. Pada kali ini berlaku sebaliknya.

Bagi P100 Pandan. Pecahan pengundi di kawasan ini asalnya Melayu adalah majoriti. Ketika itu Datuk Ong Tee Kiat berbangsa Cina telah menang selesa. Namun pada PRU13 ini majoriti pengundi adalah Cina. Pecahan mengikut kaum ialah Melayu (44.36 %), Cina (48.14 %), India (6.60 %) dan lain-lain (0.9 %). Mohd Rafizi berbangsa Melayu menewaskan Lim Chin Yee dan Tan Yew Leng yang berbangsa Cina dengan majoriti 26,729 undi!

Bagi N30 Mentakab, Pahang calon Melayu, Tengku Zulpuri Shah Raja Puji menewaskan penyandang kerusi ini yang berbangsa Cina iaitu Datuk Chuah Boon Seong dengan majoriti 1,554 undi. Pada PRU12, Datuk Chuah menang dengan majoriti 2,439 undi. Pecahan pengundi bagi kawasan ini ialah Melayu (50.94 %) Cina (40.95 %), India (5.92 %) dan lain-lain (2.19 %).

Berdasarkan fakta dan maklumat tersebut, dengan sendirinya menyangkal dakwaan bahawa orang Cina bersikap rasis kerana memenangkan calon bangsa mereka. Orang Cina bukan menolak 
BX atau bangsa mereka sendiri tetapi mereka menolak pemimpin dan parti yang rasuah, salah guna kuasa, rasuah dan pelbagai lagi masalah.

Selain itu, pengundi cina juga membuktikan bahawa mereka masyarakat yang matang dan celik maklumat serta tidak mudah melatah dengan propaganda politik. MCA telah memainkan isu satu undi untuk DAP bererti satu undi untuk PAS yang mahu mengadakan hukum hudud. 
Uxxx juga turut menakut-nakut pengundi melalui isu ini. Walaupun ada kalangan pemimpin DAP yang tidak bersetuju dengan hasrat PAS itu, tetapi para pengundi Cina semakin hari semakin memahami apakah hukum hudud.

Buktinya, mereka telah memberi sokongan yang padu dan memberikan kemenangan bergaya kepada calon-calon PAS di kawasan lebih 40 peratus pengundi Cina.

DUN N13 Sungai Abong, Bakri, Johor. Calon PAS, Dr Sheikh Ibrahim Salleh berjaya mengekalkan kerusi yang dimenanginya pada PRU12 lalu. Majoritinya turut bertambah dari 1,550 pada PRU12 kepada 3,813 pada PRU13. Pecahan pengundi bagi DUN ini ialah Melayu (51.33 %), Cina (45.22 %), India (2.96 %) dan lain-lain (0.48 %).

N15 Maharani. Calon PAS, Dr Mohammad Taslim juga telah mengekalkan kerusi yang dimenangi pada PRU12 dan menambahkan majoritinya daripada 158 pada PRU12 kepada 3,136 pada PRU13. Pecahan pengundi mengikut kaum bagi kawasan ini ialah Melayu (54.98 %), Cina (41.98 %), India (2.50 %) dan lain-lain  (0.54 %).

Seterusnya N21 Parit Yaani, calon PAS, Aminolhuda Hassan berbangsa Melayu telah merampas kerusi ini daripada calon MCA Teo Yew Chuan dengan majoriti kemenangan 1,188. Pada PRU12, MCA menang dengan majoriti 3,857 undi. Pecahan pengundi ialah Melayu (55.61 %), Cina (43.06 %), India (1.82 %) dan lain-lain (0.23 %). Keputusan ini juga membuktikan pengundi Cina bukan rasis kerana turut memberi undi kepada PAS.

Bagi kawasan N41 Puteri Wangsa pula, pengundi Cina dengan jelas membuktikan bahawa kempen menakut-nakutkan mereka dengan isu hudud kurang berkesan dan orang Cina tidak rasis. Hal ini kerana calon PAS, Syed Sis Abdul Rahman menang dengan majoriti 4,469 undi. Pecahan pengundi bagi kawasan ini ialah Melayu (40.27 %), Cina (47.22 %), India (11.79 %) dan lain-lain (0.73 %).

Jika anda rajin menelaah keputusan PRU13 yang lalu, banyak lagi bukti yang menunjukkan bahawa penolakan pengundi Cina bukanlah kerana bangsa atau parti tetapi penolakan total kepada sikap parti pemerintah itu sendiri.

Salah seorang rakan saya berbangsa Cina menyatakan rasa sedihnya apabila dituduh bangsanya bersikap rasis. Bagi beliau, tuduhan itu tidak berasas sama sekali dan tidak menghormati haknya sebagai pengundi untuk membuat pilihan.

Oleh itu, sebagai rakyat Malaysia yang cintakan keamanan, keharmonian antara kaum, dan kemakmuran negara menyeru agar jangan memainkan isu-isu yang boleh mengundang kebencian antara kaum. Marilah kita bersama menuju Malaysia baru yang saling hormat-menghormati antara kaum dan agama.

sumber harakahdaily

Menolak auta dengan fakta

Suhaimi Saad,
07 Mei 2013
Kecoh sekarang ini ahli parlimen Malaysia ramai yang bukan Melayu. Aduhai.. adakah kita mengalami kerosakan minda yang parah.. DAP bertanding di kawasan Cina menghampiri majoriti dan lawannya adalah MCA, MIC dan Gerakan.

Jika DAP kalah sekalipun Melayu tak akan bertambah dalam Parlimen sebab DAP lawan MCA, MIC dan Gerakan. Malah Kemenangan Pakatan Rakyat ini menyebabkan Melayu bertambah dalam Parlimen dan DUN, saya bagi contoh:-

Kerusi Parlimen :-


1. Rafizi (PKR) menang lawan Gary Lim (
BX) - Pandan.

2. Dr Siti Mariah (PAS) Menang lawan S. Murugesan (
BX) - Kota Raja.

3. Tan Sri Khalid (PKR) Menang lawan Tan Kok Eng (
BX) - Bandar Tun Razak.

4. Imran Hamid (PKR) menang lawan Kong Cho Ha (
BX) - Lumut.

5. Datuk Arif (DAP) menang lawan Hoh Khai Mun (
BX) - Raub.

6. Kamarul Bahrin (PKR) menang lawan V.S Mogan (
BX) Telok Kemang.

7. Khairil K. Johari menang lawan Teh Leong Meng (
BX) Bukit Bendera.

Kesimpulannya : 

Menang Pakatan Rakyat bermakna tujuh Ahli Parlimen Melayu bertambah dalam Parlimen. Jika Pakatan Rakyat kalah, kita akan kehilangan tujuh ahli parlimen Melayu

Kerusi DUN:-

1. Azman Nasarudin (PKR) menang lawan S. Ananthan (
BX) – Lunas, Kedah.

2. Datuk Anuar Abdullah (PAS) menang lawan Tan Ken Ten (
BX) – Kota Lama, Kelantan.

3. Azan Ismail (PKR) menang lawan Datuk Toh Chin (
BX) – Bandar, Terengganu.

4. Tengku Zulpuri (DAP) menang lawan Datuk Chuah Boon (
BX) – Mentakab, Pahang,

5. Mohd Rashid (PKR) menang lawan Wong Mun (
BX) - Pantai Jerjak, Penang .

6. Dr Idris (PKR) menang lawan K. Parthiban (
BX) – Ijok, Selangor.

7. Aminul Huda (PAS) menang lawan Teo Yew (
BX)- Parit Yani, Johor.

8. Abdullah Husin (PAS) menang lawan M. Sorianarayan (
BX) – Puteri Wangsa, Johor.

Orang bertanya kepada saya bagaimana pula seorang Melayu, Ghani Othman boleh kalah dengan Lim Kit Siang.
Saya katakan Ghani Othman cari penyakit. Dia bertanding di kawasan (Cina 52%) (Melayu 34%) selebihnya India . Parlimen ini dulunya adalah milik MCA.

Kalau 
Uxxx masih bangkitkan isu Melayu dan bukan Melayu ni. Saya nak tanya bagaimana pula Kawasan majoriti Melayu, bukan Melayu BX boleh menang. Melayu UXXX undi siapa? Saya senaraikan.

1. Parlimen Simpang Renggam (M- 56%) Suhaizan (PAS) kalah lawan Liang Teck Meng (
BX).

2. Parlimen Tanjong Piai (M- 52 %) Dr Mahzir (DAP) Kalah lawan Wee Jack (
BX)

3. Parlimen Batu Sapi (Islam 51%) Hamzah (PAS ) Kalah lawan Tsen Tsau (
BX)

4. DUN Gurun (M- 57%) Salma Ismail (PKR) Kalah lawan Dr Leong (
BX)

5. DUN Cheka (M- 69%) Cikgu Abas (PKR) kalah vs Dato Fong (
BX)

6. DUN Gambir (M- 56%) Datuk Mahfoz Mohd (PAS) kalah lawan M. Aso (
BX)

7. DUN Chenderiang (M-36%, C-30%) Amani Abdullah (PKR) kalah lawan Dr Mah Hang(
BX)

8. DUN Pemanis (M- 56%) Cikgu Normala (PAS) Kalah lawan Lau Chin (
BX)

9. DUN Kahang (M-74%) Hamdan (PKR) kalah lawan R. Vidyanathan (
BX)

10. DUN Pulai Sebatang (M-63%) Ungku Mohd Nor kalah lawan Datuk Tee Seiw (
BX)

11. DUN Tg Aru (Islam – 52%) Hamid Ismail (PAS) kalah lawan Yong Oui (
BX)

12. DUN Bingkor (Islam 38%) Ahmad Shah (PKR) kalah lawan Kennedy John (
BX)

13. DUN Merotai (Islam-53%) Ahmad Dullah (PAS) kalah lawan Pang Yuk Ming (
BX)

Masih percaya dakyah 
UxxxUxxx menipu kita selama ni dengan memainkan sentiment perkauman. Sebenarnya yang merosakkan Melayu dan menggadaikan masa depan melayu adalah pemimpin Uxxx.

Hentikan main isu perkauman jika anda tak tahu fakta sebenar!

DAA9386

DAA9386

RUMAH IPOH

RUMAH IPOH

8288

8288